The Sweet Sins (DIVA, 2012); Novel Cinta Sepasang Gay

The Sweet Sins udah jadi topik pembahasan tersendiri. Sebenarnya nggak tersendiri juga ding, karena hampir bersamaan, novel Garis Tepi Seorang Lesbian.

 

“The sexiest novel I’ve ever read.” Itu kalau kata Betty W. Kusuma tentang novel The Sweet Sins. Dan masih ada komentar lainnya dari orang-orang yang pertama kali baca novel bertema kehidupan sepasang gay karangan Rangga Wirianto Putra—yang tertera pada bagian belakang sampul buku setebal 428 halaman ini.

Buat gue sendiri, The Sweet Sins bukan novel gay (atau LGBT) pertama yang gue baca. Kalau dirunut ke belakang, lebih dari sepuluh karyalah yang tipenya sama, kalau nggak gay ya lesbian, kalau enggak biseksual, transgender, transeksual, dan sejenisnya. Dan ini juga bukan novel bertema LGBT yang ditulis seorang—oke gue nggak mau berspekulasi, jadi gue anggap si penulis adalah—straight.

Di kantor gue, sebelum novel The Sweet Sins terbit, udah jadi topik pembahasan tersendiri. Sebenarnya nggak tersendiri juga ding, karena hampir bersamaan, novel Garis Tepi Seorang Lesbian pun rencana akan diterbitkan ulang. Dan membuat kaget cukup banyak teman-teman sekantor gue. It was a WOW thing. Dua novel yang temanya agak beda akan hadir dari sebuah penerbitan yang notabene selama ini jarang menyentuh ranah kontroversial.

Oke, Garis Tepi Seorang Lesbian mungkin akan gue bahas lain kali, sekarang The Sweet Sins dulu.

Tersebutlah seorang mahasiswa yang berprofesi sebagai gigolo, blasteran Indonesia-Belanda bernama Rei, bertemu dengan seorang newscaster tampan bernama Ardo di suatu malam setelah Rei dihajar sampai babak belur gara-gara ogah melayani sekumpulan pria yang memenangkan lelang atas dirinya di sebuah klub malam. Ya jelas dia ogah, selama ini kan dia melayani tante-tante, sekalipun tidak pernah disentuh pria.

Nah, Ardo yang kasihan dengan keadaan Rei, lalu merawat pria itu di apartemennya. Ardo itu—kalau hasil gue menyimpulkan—adalah tipe pria yang begitu dewasa dan kebapakan, meskipun ya usianya nggak tua-tua amat. Itulah yang membuat Rei senang dengannya. Rei itu anak dari keluarga broken home, dia ditinggal sang ayah sejak kecil. Ketika dia—dari alam bawah sadarnya merindukan sentuhan seorang ayah—jeng jeng, itu terpenuhi dari Ardo. Ya. Awal ceritanya seperti begitu.

Mereka pun menjalani hubungan diam-diam. Tapi toh sahabat-sahabat Rei bisa mencium rahasia itu dan Rei sulit untuk mengelak. Rei dan Ardo pun coming out—ini istilah dalam dunia LGBT buat orang yang terbuka soal orientasi seksualnya kepada orang lain. Memang, tidak mudah menerima kenyataan dan memahami Rei, tapi toh tiga sahabatnya juga tidak punya hak untuk merusak hubungannya dengan Ardo kan?

Gue rasa, terlalu sederhana kalau sebuah novel LGBT hanya berkutat soal coming out. Itu sangat basic dan basi. Rangga tahu kalau banyak hal yang bisa dia gali dan dia tuliskan hingga terciptalah sebuah karya yang sangat “matang”. Dari halaman ke halaman, gue disuguhkan dengan pengetahuan-pengetahuan baru, ya yang nempel di kepala gue cukup yang positif aja, seperti tentang filosofi hidup, tentang ilmu fisika, musik klasik, dan banyak lainnya. Ini yang membuat gue tahan membaca The Sweet Sins sampai habis meskipun endingnya membuat gue pengen menggebrak meja karena: gue nggak suka. Halah!

Setahu gue, The Sweet Sins karya pertama Rangga. Gue sendiri belum pernah bertanya berapa lama dia menulis naskah ini dan ekspektasi dia sebenernya apa dari bukunya. Tapi gue merasa perlu meletakkan nama Rangga ke dalam penulis yang karyanya patut dinantikan. Dia punya segudang ide, dia tahu cara mengolahnya, dan cara mengakhirinya dengan gemilang. Buat gue, cinta yang salah itu definisinya terlalu luas. Di dalam novel The Sweet Sins, gue rasa nggak ada yang punya “cinta yang benar”, kalau parameternya sempit. Jadi simpanan orang salah, jadi gigolo salah, jadi gay salah, jadi jomblo apalagi. Setiap orang bisa aja punya parameter benar salah, asal jangan sampai dipaksakan agar orang lain juga harus punya pemahaman yang sama. Kebayang nggak kalau di dunia ini isinya benar semua? Kapan kiamat datang? Sorry, just joking.

Buat yang penasaran sama The Sweet Sins, segera hunting deh di toko-toko buku terdekat, cuma Rp50.000 aja. Tapi harus cukup umur ya, ini buat konsumsi dewasa. Ababil dilarang baca. Bahaya!

The Sweet Sins (DIVA, 2012); Novel Cinta Sepasang Gay
Sumber gambar: dutailmu.co.id

Yogyakarta, 7 Oktober 2012

Nisrina Lubis

Nisrina Lubis

Saya menganggap blog ini sebagai rumah virtual. Segala yang saya sukai, saya tuliskan di sini, tanpa kecuali. Terima kasih sudah berkunjung dan membaca. Menuliskan komentar sama sekali bukan kewajiban.
Nisrina Lubis

Leave a Response