The Girls of Riyadh; Buku yang Mengungkap Kekangan Perempuan Arab

The Girls of Riyadh. Welcome to Arab Saudi, sebuah negara kaya raya yang punya perlakuan berbeda terhadap kaum perempuannya. Ketika membaca sinopsisnya di sebuah situs, sebenarnya tidak begitu membuat saya penasaran untuk tahu emang beneran kaum perempuan di Arab Saudi sana semacam terkekang oleh kultur? Kuliah di jurusan sastranya orang-orang Arab sana, membuat saya banyak mendengar dari dosen atau teman-teman yang pernah ke sana, sampai akhirnya saya sendiri ke sana, soal kebenarannya. Memang, perempuan di sana tidak bisa bebas berkeliaran tanpa muhrim, tidak boleh menyetir mobil sendiri, tidak boleh bersalaman, harus tunduk pada laki-laki. Saya sih tidak perlu men-jugdge bahkan orang-orang Arab perlu mendapat sentuhan liberalisasi agar perempuannya bisa bebas. Bagi saya, budaya adalah sesuatu yang harusnya dihargai, sama halnya dengan ketika orang asing melihat budaya kita.

Di salah satu bagian disebutkan, Arab Saudi penduduknya mayoritas muslim-tidak jauh berbeda dengan Indonesia, tapi dengan penetapan syariat Islam. Tidak bisa disamakan dengan Emirat, Irak, Palestina, dan lainnya. Kurang lebih sama dengan yang sekarang berlaku di Aceh, dengan salah satunya berdampak pada ketatnya pengawasan interaksi antara kaum lelaki dan perempuan. Jika sepasang manusia bukan suami-istri atau kerabat, tertangkap berduaan di tempat umum oleh petugas penegak syariat-di buku kejadian ketika Ali bertemu Lumeis-bisa diinterogasi dan dipenjara. Tapi seberapa mampu sih mereka ini menertibkan masyarakatnya? Di satu sisi, ya begitulah ajaran Islam menjaga kehormatan seorang perempuan, tapi perempuan yang merasa dirinya gerah dengan aturan seperti itu jumlahnya mungkin lebih banyak. Gempuran westernisasi sudah terlalu sulit dibendung. Bisa saya bilang, Riyadh adalah kota metropolitan, beda sama Makkah dan Madinah yang disakralkan. Di Riyadh, pusat hiburan malam sangat banyak, perempuan-perempuan sana pun lebih bebas, tidak semuanya ber-abaya. Para ekspatriat hadir di sana. Makan dan minuman haram ada di sana. So, nggak ada bedanya dengan kota-kota besar lain di dunia.

Sudut pandang yang diambil oleh Rajaa Al Sanea adalah dari kehidupan gadis-gadis muslimnya. Kisah nyata empat orang gadis Arab Saudi yang diceritakan secara terpisah-pisah dalam email mingguan dan menghebohkan. Bagi orang Arab, sama saja dengan membuka aib, tapi bagi si penulis yang seorang dokter gigi, ini adalah pengetahuan yang dunia harus tahu. Al Sanea bagi saya menjadi versi baru dari Nawal El Saadawi, seorang penulis perempuan yang pernah masuk penjara gara-gara tulisannya yang terlalu kritis. Bedanya, Al Sanea hanya menyoroti pada kehidupan perempuan di dalam konstruksi sosial masyarakat, tidak sama sekali merambah ke ranah politik. Tulisannya bergaya populer dan setiap di awal email, ia selalu menyampaikan betapa banyak pembaca yang merespons negatif, di samping ada pula yang berterima kasih.

The Girls of Riyadh adalah 50 email yang berisi rangkaian kisah nyata perjalanan cinta Qamrah El Qashmani, Shedim El Harimly, Lumeis Jadawy, dan Michelle El Abdul Rahman. Empat sekawan yang punya kisah percintaan mulai dari yang berliku-liku hingga yang minim konflik. Saya tidak bisa memastikan seberapa real isi cerita, karena tentu saja bukan sebuah biografi. Keempat orang ini pun tidak dimintakan konfirmasi sebelum kisah hidup mereka terpublikasikan. Saya lebih merasa tepat menganggapnya hanya sebagai novel, dengan adanya unsur-unsur fiktif sebagai bumbunya. Dan si penulis tidak mendapat tuntutan hukum dari pihak-pihak yang merasa dirugikan dengan tereksposnya kehidupan mereka.

The Girls of Riyadh; Buku yang Mengungkap Kekangan Perempuan Arab

Puluhan email yang dikirimkan secara mingguan, menghadirkan kisah-kisah yang sambung-menyambung tapi sengaja tidak berurutan. Ada kalanya menceritakan Shedim, minggu berikutnya tentang Michelle.Oh ya Michelle adalah blasteran Amerika-Arab. Nama Arabnya Misy’al.

Qamrah, gadis yang paling pertama menikah di antara mereka berempat. Suaminya bernama Rasyid. Setelah menikah, keduanya bertolak ke Amerika karena sang suami harus melanjutkan studi doktoral. Rasyid mencintai perempuan lain, sebelum dijodohkan dengan Qamrah. Hal itu ketahuan dan ternyata kekasih Rasyid adalah seorang perempuan Jepang, Karey. Keluarga Karey banyak berjasa pada Rasyid, tapi keluarga Rasyid tidak merestui hubungan keduanya. Ingin mempertahankan keluarga, Qamrah menghentikan konsumsi obat pencegah kehamilan hingga mengandung dan menuntut supaya Rasyid memutuskan hubungan dengan Karey. Ah, tapi, ternyaa Rasyid malah memilih menceraikan Qamrah.

Shedim, sosok yang naif. Ia menjalin hubungan dengan seorang pria bernama Walid. Hubungan mereka sudah mencapai tahap pertunangan ketika berakhir sepihak. Penyebabnya, Shedim sudah menyerahkan keperawanannya pada pria itu dan bagi Walid, Shedim tidak pantas menjadi pendamping hidup. Setelah putus hubungan dengan Walid, ia dekat dengan seorang pria bernama Faraz, seorang pegawai bank di London. Tapi hubungan keduanya juga berakhir sepihak karena Faraz menikah dengan perempuan lain.

Lumeis diceritakan sebagai sosok yang sering dibayangi berita miring dengan kedekatannya pada beberapa mahasiswi. Rupaya, bukan hanya kedekatan lawan jenis yang menjadi pergunjingan, dengan teman kuliah sendiri yang terlihat begitu sering, juga akan menjadi tidak nyaman bagi pihak yang tertuduh. Lumeis berkawan akrab dengan Fatimah asy-Syi’iah. Seorang penganut Syi’ah dan dipandang aneh oleh kalangan mahasiswa. Bukan hanya di Arab, Syi’ah di mana pun selalu menimbulkan tanda tanya soal perbedaan mereka dalam banyak aspek, terutama ibadah. Tapi saya menyaksikan sendiri bagaimana penganut Syi’ah diperbolehkan masuk ke dalam Masjid Nabawi dan Masjidil Haram.

Pertemanan Lumeis dengan Michelle menjadi renggang karena Lumeis menjadi lebih akrab dengan Fatimah. Selain itu, Lumeis juga dekat Ali, saudara Fatimah. Hubungan keduanya tidak mendapat restu orang tua Lumeis karena Ali seorang pengikut Syi’ah. Setelah putus di tengah jalan, Lumeis berkenalan dengan Nizar, hanya berselang tiga bulan, keduanya pun menikah.

Michelle, yang di antara tiga yang lain, memiliki paras paling cantik. Meski begitu, hubungan cintanya dengan Faishal tidak berjalan mulus. Michelle yang dianggap hidup bebas, membuat orang tua Faishal tidak menyukainya. Pertama kali mereka bertemu di mal ketika Michelle sedang berjalan-jalan dengan kawan-kawannya. Putusnya hubungan Michelle dan Faishal terjadi begitu saja, hingga saya mempertanyakan, semudah itukah kaum lelaki Arab melepaskan perempuan yang dicintainya. Michelle kemudian melanjutkan kuliah ke San Francisco dan dekat dengan Matthew, sepupunya. Tapi, hal itu rupanya mengusik orang tua Michelle, hubungan itu dianggap terlarang oleh mereka. Michelle kemudian dipindahkan ke Dubai sebagai bentuk intervensi keluarganya. Padahal, sebelum orang tuanya pindah ke Riyadh, mereka adalah tipikal demokratis. Kultur setempatlah yang memaksa mereka untuk meleburkan diri.

The Girls or Riyadh menjadi terkesan puitis ketika Sanea mengutip sejumlah syair klasik dari Nizar Qabany dan Kahlil Gibran, dua penyair besar berdarah Arab dan karya-karyanya sudah diakui dunia. Ada pula beberapa kutipan kata-kata bijak seperti misalnya dari Helen Keller, Taufik al-Hakim, Anis Manshur, hingga Socrates yang dipergunakan sebagai bahan perenungan. Sementara untuk menekankan sisi islami si penulis, ada beberapa ayat al-Qur’an dan hadits di dalamnya.

Ada sedikit sisipan materi psikologi yang diwakili oleh tokoh Ummi Nuwair, bibi tertua Shedim, ibu dari seorang anak lelaki yang transeksual. Nuwair hanya diceritakan sekilas, bahwa ia sejak kecil sudah suka berpakaian seperti perempuan. Saya pikir hanya cross-dress, ternyata transeksual karena dia menginginkan operasi kelamin.

Salah satu sisipan psikologi yang disampaikan Ummi Nuwair mengenai kategori manusia:

Bahwa manusia terdiri atas dua tipe, yang muthmainnah dan overconfidence. Mudahnya, overconfidence adalah tipe orang yang menganggap dirinya terhebat, terkuat, dan sejenis itu. Sementara yang muthmainnah adalah yang tenang, wajar, memiliki kepercayaan diri tapi dalam parameter standar. Kaum overconfidence kemudian menjadi pelaku intervensi dalam keluarga, menyebabkan si anak akhirnya tidak berdaya untuk menentukan hidupnya sendiri.

Jika mengambil dari sudut pandang agama, di mana seseorang dinilai bukan dari fisik, harta, melainkan keimanan, maka dibagilah secara gender. Laki-laki terdiri dari dua jenis, yang taat beragama atau yang biasa-biasa saja. Laki-laki yang tidak taat bisa saja berasal dari keluarga yang longgar agamanya atau bahkan yang memang mengingkari agama.

Perempuan dibagi ke dalam tiga kelompok, punya kesadaran kuat beragama, yang tahap masih rata-rata, dan tidak taat. Penyebab tidak taat ada dua fase, ketika dari akil balig, atau semenjak menikah, karena bertemu dengan pria yang memang dasarnya tidak taat.

Novel ini memang tidak merepresentasikan semua hal tentang Riyadh, apalagi Arab Saudi, apalagi orang Arab. Ini hanya sebagian kecil saja, dari sudut pandang satu orang. Di luar sana tentu banyak buku-buku lain yang berusaha membuka tabir yang sengaja ditutup rapat-rapat.

 

Jogja, 9 Juli 2014

Nisrina Lubis

Nisrina Lubis

Saya menganggap blog ini sebagai rumah virtual. Segala yang saya sukai, saya tuliskan di sini, tanpa kecuali. Terima kasih sudah berkunjung dan membaca. Menuliskan komentar sama sekali bukan kewajiban.
Nisrina Lubis

Leave a Response