Sakit Gigi VS Sakit Hati

Kata lagu dangdut nyesek zaman generasi 90-an, lebih baik sakit gigi daripada sakit hati. Makin nyesek lagi kalau sambil nonton video klip bersetting tepi pantai dengan seorang pria ngenes yang ngelihat mantan pacar jalan sama pria lain dan pura-pura nggak lihat lagi. Kata generasi dangdut alay masa kini; sekongnya tuh sindang cynnn—sambil nunjuk dompet yang udah nggak ada uang tunai meski kata masih pertengahan bulan. Debit card pun melompong. Salah siapa begitu nerima gaji langsung dititipin di toko sepatu ama salon. Yo mesti langsung kere seminggu pertama.

By the way, perkara sakit gigi dan sakit hati ini, menjadi pertanyaan mahaperlu dijawab oleh generasi masa kini yang terkenal kritis dan gemar mengoprek-oprek apa saja yang ada di depan mata.

Maka dari itu, mari membuat sebuah studi komparasi kurang serius mengenai sakit gigi dan sakit hati dengan metode jurnalistik sederhana, 5W+1H.

Who
Jika Andalah si objek penderita, niscaya Anda tidak akan sepakat dengan Bung Meggy Z dan memilih sakit hati saja ditinggal pacar, ketimbang pipi bengkak, ogah makan, sensitif kayak cewek lagi PMS, dan susah tidur.

What

Sakit gigi bisa berawal dari kelalaian si pemilik gigi dalam hal me-maintenance aset pribadinya sehingga muncullah karang gigi dan lubang-lubang yang semakin lama semakin menggerogoti. Ongkos buat membersihkan karang gigi dan nambal-nambal gigi yang lubangnya seimut tanda titik otomatis bikin sakit hati. Tapi sakit hati tidak akan berdampak langsung menjadi sakit gigi tho. Tanyalah Zayn Malik yang udah capcus dari One Direction itu. Bung Zayn jelas sakit hati karena tingkah haters di luar sana. Ah padahal Kak Taylor Swift kan selalu bilang: haters gonna hate, hate, hate. Selow aja, Brow, malu sama tatolah. Bung Zayn juga seharusnya dengerin lagunya Mbak Endang Purwasih yang benci, benci, tapi rindu jua. Mereka itu sesungguhnya benci di mulut, rindu di hati #eaaa.

When
Sakit gigi memang tak punya jadwal rutin kambuh semacam datang bulanan kaum hawa. Tapi percayalah, sakit ini tidak datangnya sekali seumur hidup. Bakal menghantui jika tidak segera ditangani. Antibiotik bukan solusi. Itu hanya pereda sementara, kata Pak Dokter.

Sakit hati bakal muncul kalo perasaan tersakiti. Kapan terakhir Anda merasa gejala-gejala seperti susah senyum, darah naik ke ubun-ubun, tangan mengepal, atau pingin mewek di pojokan kamar? Sangat disayangkan memang dengan semakin canggihnya teknologi dalam dunia kedokteran, MRI masih belum bisa mendeteksi keberadaan sakit hati. Ramuan pucuk daun teh yang telah dikemas menjadi minuman botolan pun masih belum sanggup menyegarkan kembali hati yang keok.

Where
Solusi ada di tangan. Silakan ambil handphone, telepon dokter gigi, buat janji konsultasi, ketemuan, solusi ditemukan. Simpel tho.

Sakit hati lebih rumit. Lah kadang ujuk-ujuk ngerasa sakit hati karena ditanyai kapan kawin—persis baliho rokok kapan tahun—atau dikatain bau badan, sampai-sampai yang lagi asyik main kuda-kudaan pun berubah haluan jadi pembunuhan tak berencana. Tanyalah pada GPS yang sekarang kondang meski masih kalah sama aplikasi selfi-selfian, di mana sih alamat poliklinik sakit hati, di mana dokter spesialis sakit hati buka praktik. No signal. Jiaaan!

Why
Sakit gigi itu mengikuti hukum alam. Siapa yang malas menjaga maka akan menerima dampaknya. Sakit gigi itu kasus personal, tidak akan sampai diliput portal online nasional yang concern pada bocornya 30 paket soal UN dan konon kunci jawabannya tersimpan dalam Google Drive. Generasi 90-an mana kenal yang kayak beginian #eh. Padahal iklan pasta gigi sejak generasi 90-an sudah tak asing lagi, kok masih malas sikat gigi?

Sebab lidah memang tak punya tulang, jadi tidak mungkin retak apalagi keropos, tidak butuh Anlene atau susu-susuan yang lain. Canggih memang dia. Lidah konon katanya lebih tajam dari pedang. Sesama umat bisa saling serang gara-gara lidah yang mengkafirkan dan melecehkan. Perang Dunia II yang bikin sakit hati tujuh turunan—mungkin seterusnya—bangsa Yahudi kan salah satunya karena lidah Bung Hitler si jagoan orasi itu bukan?

How
Generasi jauh sebelum 90-an kenal betul dengan tradisi mengunyah sirih (nyirih). Belum kenal mereka dengan Doublemint atau Big Babol yang konon susah betul membuat balon dari dua merek tersebut. Terbukti, gigi generasi kakek-nenek lebih kuat ketimbang yang doyan mengunyah permen dengan kadar gula tinggi.

Tentu saja tidak lucu kalau penderita sakit hati disuruh nyirih karena bisa jadi daun sirihnya dikunyah lalu ditelan mentah-mentah. Memang belum ada penelitian lebih lanjut dari risiko menelan sirih campur tembakau, tapi sebaiknya tidak dicoba. Cobalah hidup lebih selow, bukan melow, mari kongkow!

 

Jogja, 16 April 2015

Nisrina Lubis

Nisrina Lubis

Saya menganggap blog ini sebagai rumah virtual. Segala yang saya sukai, saya tuliskan di sini, tanpa kecuali. Terima kasih sudah berkunjung dan membaca. Menuliskan komentar sama sekali bukan kewajiban.
Nisrina Lubis