Reaching for the Moon (2013); Film Tentang Biografi Elizabeth Bishop

Reaching for the Moon (2013); Film Tentang Biografi Elizabeth Bishop
Reaching for the Moon (2013). Sumber gambar: IMDB

Kedatangan Elizabeth ke Rio de Janeiro memang alasan mentok saat berkarya. Di balik pribadinya yang tertutup dan pemalu, ada jiwa yang mulai terancam depresi. Alkohol menjadi pelariannya. Lalu oleh saran Robert Lowell sahabatnya, ia memutuskan untuk liburan. Di Rio, ia menginap selama beberapa hari di rumah sahabat masa kuliahnya Mary. Konon, Mary dan Elizabeth ini dekat, tapi tidak sampai punya hubungan lebih jauh. Elizabeth memang bukan gadis yang punya kepribadian normal Di usianya masih begitu belia, ibunya masuk rumah sakit jiwa. Ayahnya sudah lama meninggal. Sangat wajar jika ia pun punya kecenderungan akan mengalami depresi.
Mary menyambut Elizabeth dengan hangat, sementara Lota menganggapnya terlalu aneh. Ia menolak wine, sementara diam-diam di kamar ia menenggak wiski. Lota dengan terang-terangan menyatakan keberatannya akan kehadiran Elizabeth, tapi Mary membujuknya agar membiarkan Elizabeth berada di Samambaia, rumah mewah nan eksotis yang diarsitekturi sendiri oleh Lota. Sebuah ketololan yang dilakukan Elizabeth membuatnya harus tetap di Rio sampai beberapa minggu ke depan. Waktu yang berputar membuat Lota mulai bersimpati padanya. Lebih tepatnya jatuh cinta. Sebuah hubungan yang mulai tumbuh dengan janggal sementara Lota pun juga masih bersama Mary. Untuk menghindari perang besar, Lota membuatkan rumah lagi sekaligus tempat bagi Elizabeth untuk mencari inspirasi. Rumah yang dibangun dengan sedikit dramatis.

Mary menyambut Elizabeth dengan hangat, sementara Lota menganggapnya terlalu aneh. Ia menolak wine, sementara diam-diam di kamar ia menenggak wiski. Lota dengan terang-terangan menyatakan keberatannya akan kehadiran Elizabeth, tapi Mary membujuknya agar membiarkan Elizabeth berada di Samambaia, rumah mewah nan eksotis yang diarsitekturi sendiri oleh Lota. Sebuah ketololan yang dilakukan Elizabeth membuatnya harus tetap di Rio sampai beberapa minggu ke depan. Waktu yang berputar membuat Lota mulai bersimpati padanya. Lebih tepatnya jatuh cinta. Sebuah hubungan yang mulai tumbuh dengan janggal sementara Lota pun juga masih bersama Mary. Untuk menghindari perang besar, Lota membuatkan rumah lagi sekaligus tempat bagi Elizabeth untuk mencari inspirasi. Rumah yang dibangun dengan sedikit dramatis.

 

Reaching for the Moon (berjudul asli Flores Raras), film LGBT ini mengambil sebagian dari pengalaman hidup Elizabeth Bishop (1911-1967), seorang penyair dan juga cerpenis asal America Serikat yang pernah menerima Pulitzer di tahun 1956. Memenangkan banyak penghargaan di Cinema Brazil Grand Prize tahun 2014, salah satunya untuk Gloria Pires, pemeran Lota de Macedo Soares, arsitek kaya raya asal Brazil yang menjadi partner hidup Elizabeth. Meskipun Reaching for the Moon adalah tentang kehidupan Elizabeth, tapi saya lebih menyukai peranan Pires yang sangat dominan dan powerful. Elizabeth dengan kebiasaan minumnya yang parah tidak akan bisa menghasilkan karya-karya hebat jika Lota tidak membantunya rehab.

Kedatangan Elizabeth ke Rio de Janeiro memang alasan mentok saat berkarya. Di balik pribadinya yang tertutup dan pemalu, ada jiwa yang mulai terancam depresi. Alkohol menjadi pelariannya. Lalu oleh saran Robert Lowell sahabatnya, ia memutuskan untuk liburan. Di Rio, ia menginap selama beberapa hari di rumah sahabat masa kuliahnya Mary. Konon, Mary dan Elizabeth ini dekat, tapi tidak sampai punya hubungan lebih jauh. Elizabeth memang bukan gadis yang punya kepribadian normal Di usianya masih begitu belia, ibunya masuk rumah sakit jiwa. Ayahnya sudah lama meninggal. Sangat wajar jika ia pun punya kecenderungan akan mengalami depresi.
Mary menyambut Elizabeth dengan hangat, sementara Lota menganggapnya terlalu aneh. Ia menolak wine, sementara diam-diam di kamar ia menenggak wiski. Lota dengan terang-terangan menyatakan keberatannya akan kehadiran Elizabeth, tapi Mary membujuknya agar membiarkan Elizabeth berada di Samambaia, rumah mewah nan eksotis yang diarsitekturi sendiri oleh Lota. Sebuah ketololan yang dilakukan Elizabeth membuatnya harus tetap di Rio sampai beberapa minggu ke depan. Waktu yang berputar membuat Lota mulai bersimpati padanya. Lebih tepatnya jatuh cinta. Sebuah hubungan yang mulai tumbuh dengan janggal sementara Lota pun juga masih bersama Mary. Untuk menghindari perang besar, Lota membuatkan rumah lagi sekaligus tempat bagi Elizabeth untuk mencari inspirasi. Rumah yang dibangun dengan sedikit dramatis.

Saya mengira, lama-kelamaan Lota akan memilih Elizabeth dan memutuskan Mary. Rupanya tidak juga. Mereka hidup bertiga, karena Mary akhirnya mengadopsi seorang anak untuk mereka rawat bersama. Anak adalah impian besar Lota dan Mary, sementara Elizabeth terang-terangan tidak menyukai anak-anak. Elizabeth di sisi lain pun tidka mau mengalah. Ia menjadi sangat bergantung pada Lota dan Lota mengakui ia jatuh cinta berat pada Elizabeth.
Hidup bertiga dengan kehidupan masing-masing, menjadikan satu cerita yang membuat penasaran akan endingnya. Selama 15 tahun, Elizabeth menjalin hubungan dengan Lota. Keputusan Elizabeth untuk kembali ke Amerika Serikat karena sebuah tawaran mengajar adalah pemicu kemarahan Lota padanya. Elizabeth dalam kondisi ketergantungan alkohol parah. Bisa dibilang tiga perempuan dalam cerita ini semuanya tidak ada yang benar-benar bahagia karena cinta. Meski tidak direstui untuk pergi, Elizabeth tetap meninggalkan Brazil. Katanya sih cuma untuk mengajar satu semester, tapi siapa sih yang bakal tahu dia bakal menemukan seseorang untuk menggantikan pacar nan jauh di sana. Tidak sulit bagi seorang penulis terkenal sekelas Elizabeth untuk bisa mendapatkan kekasih baru yang bisa menemaninya setiap malam.

Lota dengan kehilangan begitu besar, makin menggila dengan obsesinya membangun sebuah taman kota dengan kolam buatan di tengah-tengahnya menyerupai Central Park, terlebih kawannya adalah seorang gubernur yang baru terpilih. Tapi keinginannya tidak sepenuhnya tercapai. Rezim pemerintah saat itu tidak dengan serta-merta memuluskan keinginannya untuk mempercantik Rio yang hampa. Depresi pun kemudian menghantui Lota. Kabar jika Lota masuk rumah sakit jiwa, sampai ke telinga Elizabeth. Sayangnya, ia tidak bisa menemui Lota karena sebenarnya ia adalah salah satu alasan dari kesedihan Lota. Mary bahkan tidak pernah menyampaikan surat-surat dari Lota untuk Elizabeth.

Lagi-lagi saya bilang, saya lebih suka dengan tokoh Lota ketimbang Elizabeth. Judul Reaching for the Moon sebenarnya merujuk pada salah satu karya arsitektur Lota untuk Parque do Flamengo yang akhirnya terbengkalai dan menyedihkan. Tempat yang seharusnya jadi danau buatan, malah menjadi temapat anak-anak bermain sepak bola.
Setting film Reaching for the Moon sebagian besar adalah di Rio de Janeiro. Sebuah kota dengan penduduk berbahasa Portugis dan masyarakat yang terbagi dua kelas. Kelas kaya raya di mana Lota, Mary dan yang lainnya bisa makan enak, minum wine mahal, pesta, dan sebagainya. Sementara yang miskin, dengan anak banyak tidak terurus, banyak pemabuk, dan sebagainya menjadi hal yang tidak terlewatkan oleh kamera. This is Brazil.

Saya menyukai banyak puisi romantis Elizabeth Bishop yang dimasukkan dalam Reaching for the Moon. Apalagi dibacakan dengan visualisasi yang cermat. Saya suka dengan puisi yang dibuatnya dengan inspirasi ketika mengeramasi rambut hitam panjang Lota.

The shooting stars in your black hair
in bright formation
are flocking where,
so straight, so soon?
–Come, let me wash it in this big tin basin,
battered and shiny like the moon.
(Elizabeth Bishop, The Shampoo)

Reaching for the Moon memang tidak sepenuhnya seputar percintaan segitiga dua perempuan Amerika dengan satu perempuan Brazil. Ini merupakan sedikit dari rekonstruksi sejarah seorang penyair besar yang nyaris kehilangan kehebatannya akibat depresi dan menemukan satu kehidupan baru untuk dimulai. Film yang seksi dan penuh haru.

Trailer Reaching for the Moon:

Jogja, 19 April 2015

Nisrina Lubis

Nisrina Lubis

Saya menganggap blog ini sebagai rumah virtual. Segala yang saya sukai, saya tuliskan di sini, tanpa kecuali. Terima kasih sudah berkunjung dan membaca. Menuliskan komentar sama sekali bukan kewajiban.
Nisrina Lubis

Leave a Response