Peran Laura Prepon sebagai Alex Vause dan Donna Pinciotti

Berikut adalah bahasan seputar 2 peran Laura Prepon dalam serial TV Orange is the New Black dan That 70’s Show.

Peran Laura Prepon sebagai Alex Vause dan Donna Pinciotti
Peran Laura Prepon. Sumber gambar: IMDB

Setelah menonton 1 season Orange is the New Black yang diangkat dari memoir milik Piper Kerman, saya pun menonton That 70’s Show di mana Laura Prepon memerankan tokoh Donna Pinciotti. Serial yang mempertemukan pasangan Ashton Kutcher dan Mila Kunis ini jauh dari kesan kelam Orange is the New Black. Murni komedi khas remaja yang tiap episodenya mengangkat cerita-cerita yang baru, kecuali kelanjutan hubungan cinta Jackie dan Michael serta bibit romantisme antara Donna dan Erick yang sudah bertetangga sejak kecil. Lalu apa aja perbedaan peran antara Alex Vause dan Donna Pinciotti?

Let’s check this one out.

1. Straight Girl Vs Gay Girl

Meski tomboi, Donna is totally straight. Selalu mengenakan celana panjang denim dan kemeja seperti teman-teman cowoknya. Tubuh jangkungnya mendukung karakternya sebagai seorang pencinta olahraga basket yang andal, setidaknya jika melawan Erick.

Untuk karakter seorang lesbian, Vause terbilang kurang “nakal”, sangat setia dan sensitif, meskipun punya profesi yang amat menantang bahaya. Dia semakin tidak nakal lagi ketika masuk tahanan, lebih banyak menarik diri dan menjauh dari masalah. Dan, Piper pun demikian halnya yang terkesan penurut dengan aturan dan takut pada tahanan lain.

2. The Good Girl Next Door Vs Bad Girl in Prison

Orange is the New Black adalah memoir tentang Piper Kerman yang kemudian di layar kaca menjadi Piper Chapman. Tapi sedari awal, banyak hal yang diubah dari cerita sebenarnya, termasuk Alex Vause yang akhirnya satu tahanan dengan Piper Chapman. Tentu saja alasan logisnya adalah, penonton tentu akan menyukai serial ini jika ada romantisme dan itu dari si tokoh utama. Siapa yang akan peduli dengan percintaan antara tahanan berdarah hispanik dengan sipir penjara? Serial ini untuk konsumsi publik Amerika. Bukankah begitu? Sayangnya, hubungan antara Alex dan Piper terlalu dingin dan tokoh-tokoh minor malahan mendapatkan sorotan lebih besar. Si kriminal kartel internasional itu pun tidak memperlihatkan superioritasnya, dan terkesan terlalu melodrama.

Dalam serial That 70’s Show, Donna selalu menghiasi layar sebanyak 200 episode, seperti halnya Jackie, Steven, Fez, kitty, dan Reginald. Memerankan remaja tomboi yang mulai jatuh cinta pada tetangganya, Erick. Rambutnya merah melewati bahu dan lebih banyak diurai begitu saja. Ia punya geng yang isinya cowok-cowok semua. Meski begitu, ada kalanya dia harus tampak lebih feminin dan seducing.

3. Glasses Vs Nonglasses

Teman saya pernah bilang, Alex Vause terlihat seksi dengan mengenakan kacamata, apalagi ketika kacamata itu dinaikkan ke kepala. Tapi menurut saya kacamata itu membuatnya tidak tampak seperti kriminal, malah membuatnya tampak manis dan lugu, kecuali kalau lagi main mata dengan Piper.

Di That 70’s Shows, Tidak ada tokoh utama yang mengenakan kacamata. Saya rasa Donna pun akan terlihat sama cupunya jika dia harus mengenakan kacamata sementara perannya sebagai anak muda (saat bermain itu usianya memang masih 18 tahun) yang ceria dan lincah.

 

4. Shy Girl Criminal Vs Aggressive Young Girl

Ada dua karakter Vause yang cukup bertentangan dalam Orange is the New Black. Pertama, ketika dia masih menjadi anggota kartel internasional dan berpacaran dengan Piper. Dia menjadi sosok yang HOT, bahkan di awal episode pertama season pertama, ada sekilas adegan Alex dan Piper mandi bareng, hanya beberapa detik tapi cukup bikin merinding. Termasuk juga ketika flashback saat keduanya masih berbisnis bareng. Kedua, ketika menjadi tahanan dan saya nggak paham kenapa dia langsung berubah menjadi tokoh baik-baik dan cenderung membosankan. Sama sekali tidak pernah membuat masalah dan sedikit mulai nakal menjelang akhir season pertama.

Di That 70’s Show, Donna ya karakternya terkesan agresif dan independen. Bisa dibilang mewakili pemikiran feminis, meski setting ceritanya empat dekade yang lalu. Oh ya, hal lain yang saya sukai dari serial ini adalah potongan rambut para pemainnya benar-benar jadul.

5. Broken Heart Girl Vs Single One

Saya belum membaca memoir Orange is the New Black milik Piper Kerman yang menceritakan kisahnya ketika berada di dalam tahanan. Dengan banyaknya perubahan, saya rasa sosok Vause yang ditampilkan begitu melodrama pun bisa jadi berbeda dengan sosok dalam kenyataannya. Yang terang-terangan mengakui bahwa dirinya patah hati telah ditinggalkan Piper begitu saja dan tidak pernah memberi kabar hingga keduanya bertemu kembali dengan situasi yang sudah banyak berubah, termasuk Piper dan menjalin hubungan dengan seorang pria bernama Larry yang kemudian menjadi suami Piper dalam dunia nyata.

Di serial That 70’s Show, Donna adalah sosok single dan memahami teman-teman cowoknya yang kadang bertingkah tengil, termasuk tidak jengah ketika teman-teman cowoknya membaca majalah porno. Maklum saja, di zaman itu belum ada internet dan peredaran majalah dewasa masih ketat untuk mereka yang baru berusia 17 tahun. Meski tengah tengah merasakan sinyal-sinyal cinta, dia tidak  berubah menjadi sosok penggalau. Tetap seperti biasa, yang lebih sering menang main basket dari tetangganya, Erick.

6. A Family Daughter Vs Brokenhome Family

Jika tidak sedang hang out dengan teman-temannya, Donna menghabiskan waktunya di rumah dan membaca. Bukan tipikal pencinta dugem maupun menggatal di luar sana. Ayahnya berteman baik dengan ayah Erick. Demikian pula dengan orang tua teman-temannya saling akrab dan menurun pada anak-anaknya yang juga sebaya.

Alex Vause tinggal dengan ibunya, dan baru bertemu sang ayah yang seorang rock star ketika usianya sudah dewasa. Lingkungan ayahnya tidak begitu baik, namanya juga seleb. Obat-obatan terlarang bukan sesuatu yang asing. Dari situlah pula dia berkenalan dengan kartel internasional, terlibat dalam penjualan narkotika kelas berat dan pencucian uang. Di sebuah bar, adalah tempat pertemuan pertamanya dengan Piper. Hubungan keduanya juga mulai berkembang dari sana.

 

Jogja, 13 Juni 2015

Nisrina Lubis

Nisrina Lubis

Saya menganggap blog ini sebagai rumah virtual. Segala yang saya sukai, saya tuliskan di sini, tanpa kecuali. Terima kasih sudah berkunjung dan membaca. Menuliskan komentar sama sekali bukan kewajiban.
Nisrina Lubis

Leave a Response