Paragraf dalam Sebuah Karya Fiksi; Memahami Prinsip Dasarnya

Kalau bicara tentang sebuah karya fiksi, akan bersentuhan dengan yang namanya paragraf. Menurut KBBI, definisinya:

pa·ra·graf n bagian bab dl suatu karangan (biasanya mengandung satu ide pokok dan penulisannya dimulai dng garis baru); alinea

Tidak ada pembatasan satu paragraf itu harus berapa baris, terdiri dari berapa kalimat, berapa frase, berapa tanda baca, dan seterusnya. Bebas saja dan penulis bisa berkreasi sesukanya. Maka, wajar saja jika saat membaca cerpen atau novel, terkadang terlihat panjang, terkadang sangat singkat. Mungkin hanya satu baris.

Dalam proses mentoring novel, yang berhubungan dengan paragraf sedikit banyak juga saya bahas, sehingga jangan sampai penulis membuat sebuah paragraf yang terlalu banyak ide pokok sehingga kalimat penjelasnya pun juga akan semakin banyak padahal, sebenarnya paragraf itu bisa dipecah ke dalam beberapa paragraf baru.

Paragraf tidak melulu harus diisi dengan kalimat, boleh frase, sebagai bentuk variasi. Kalimat juga sebisa mungkin dibuat variatif. Kita mengenal pola kalimat adalah Subyek-Predikat-Obyek-Keterangan.

Paragraf dalam Sebuah Karya Fiksi

Subyek + Predikat sudah dapat dikatakan sebagai kalimat. Contoh:

1. Saya berlari

2. Dia diam

3. Mereka masuk

4. Adik belajar

5. Penumpang turun

 

Untuk kalimat yang terdiri dari Subyek + Predikat + Obyek. Contoh:

1. Saya melihat bintang.

2. Rusa minum air.

3. Billy meniup seruling

4. Fira membeli permen

5. Dia menulis cerpen.

 

Ada pula kalimat yang terdiri dari Subyek + Predikat + Obyek + Keterangan maupun Subyek Predikat Keterangan. Contoh:

1. Pak Guru menulis kalimat di papan tulis

2. Kita akan datang ke Jogja

3. Ibu menjahit baju sekolah di ruang tengah

4. Tukang sampah memarkir mobil di depan rumahku

5. Saya menonton film di kamar

 

Kalimat pun ada pula yang kemudian dikenal sebagai kalimat majemuk beringkat dan sebagainya. Itu bukan yang ingin saya bahas sekarang tentu saja. Kembali ke perkara paragraf yang tersusun dari sekian kalimat. Seringkali saya temui, penulis kurang berani untuk membuat variasi-variasi kalimat dalam tulisannya. Akibatnya, paragraf terasa kaku dan membosankan. Akan saya berikan satu contoh paragraf yang mewakili hal tersebut.

Rina masuk ke perpustakaan. Dia meminjam sebuah buku pelajaran. Dia mengeluarkan kartu perpustakaan. Dia meletakkannya di meja. Dia memasukkan buku ke dalam tas. Dia meninggalkan perpustakaan.

Secara tata bahasa, tidak ada yang salah dengan kalimat-kalimat ini. Tapi jika bicara tentang kenyamanan dan keindahan, tentu lain hal. Kenapa subyek selalu di depan? Kenapa polanya selalu SPO. Memang benar, bahasa kita mengenal pola tersebut. Jika diubah ke dalam kalimat pasif, bukan berarti melanggar tata bahasa yang berlaku kan. Misalnya paragraf tadi divariasikan menjadi begini:

Rina masuk ke perpustakaan. Dipinjamnya sebuah buku pelajaran. Kemudian kartu perpustakaan ia keluarkan, diletakkannya di atas meja. Setelah itu, dimasukkannya buku itu ke dalam tas, sebelum meninggalkan perpustakaan.

Di paragraf ini, variasinya memang tidak terlalu signifikan. Coba kalau kita naikkan variasinya ke level selanjutnya. Jika hanya memutar-mutar kata-kata, tidak banyak yang dapat diberikan kepada pembaca, maka tambahkan dengan kata-kata baru.

Perpustakaan. Rina berada sana di suatu siang untuk meminjam sebuah buku pelajaran. Langkahnya terhenti di depan meja petugas berkacamata dengan rambut yang jarang disisir dan agak berubah. Senyumnya terulas singkat sembari tangannya mengangsurkan kartu anggota berwarna biru yang sudah lecek dan fotonya pudar terkena air hujan. Pandangannya mengedar ke sekeliling isi perpustakaan yang sepi. Teman-temannya sudah pulang karena ada rapat guru. Diucapkannya terima kasih setelah buku itu sudah boleh dipinjamnya. Ia menyimpannya dalam tas hitam yang talinya satu sudah copot. Kemudian berlalu menuju pintu gerbang yang setengah tertutup.

Penulis bebas untuk mengembangkan paragraf dengan menambahkan detail atau gestur tubuh si tokoh. Bisa juga dengan suara, cuaca, aroma, rasa dan sebagainya. Bayangkan jika kamulah yang menjadi tokoh itu, masuk ke dunia tokoh itu. Bahkan jika si tokoh belum pernah ditemui sama sekali.

Berikut akan saya beri beberapa kutipan paragraf dan permainan kalimat di dalamnya.

Tiba-tiba dari rumah seberang, tampak seorang lelaki keluar. Diva mencibir. Baru pukul setengah sembilan, tapi telepon genggamnya sudah menempel di kuping. Mulutnya komat-kamit cepat seperti membaca jampi-jampi. Di kerah kemejanya, sebuah dari tergantung menunggu untuk disimpul. (Dee-Ksatria, Puteri, dan Bintang Jatuh)

Henrietta mengamati gumpalan awan-awan berwarna putih yang seperti terapung-apung di langit biru. Perkataan Susie terngiang-ngiang di telinganya. Betapa mudahnya obat bekerja meringankan derita fisik manusia. Adalah obat yang dapat merindukan derita perasaannya? (Clara Ng-Gerhana Kembar, hlm. 222)

Mahendra pulang dengan tangan kosong. Tanpa sebuah jawaban dariku. Lagi-lagi, keadaan menjadi terbalik. Bukan aku yang mengejarnya, tapi justru akulah yang kebingungan menghadapi tantangannya. Aku masih bingung menentukan segala pilihan ini. (Herlinatiens-Ashmora Paria, hlm. 262)

Sarah memeluk pinggang kakaknya. Duduknya hanya bisa menyamping sebab dia mengenakan rok. Tas pakaiannya diletakkan di dekat kaki Ridwan dan kedua tas kresek serta tas tangan dipegang oleh Sarah. Perjalanan mereka menghabiskan waktu lima belas menit jika tidak terjebak kemacetan. Mereka melewati jalan-jalan tikus untuk menghindari hal itu meskipun artinya harus menempuh jarak lebih jauh. (Nisrina Lubis-Putus dalam antologi Di Balik Kaca, hlm. 105).

Perhiasan Niyah satu per satu berpindah ke pegadaian. Bukan cuma makan, Niyah ingin menunjukkan kalau hidupnya berkecukupan, tidak kurang sandang-pangan, dan tidak bergelimpangan. Rumah petak boleh kontrak, kamar boleh cuma satu, tapi Niyah punya televisi 19 inci dan kulkas. (Fira Basuki-Astral Astria, hlm. 130).

Nah, untuk membuat paragraf yang lentur, sebisa mungkin berlatih menulislah setiap hati. Di saat menulis, maksimalkan kemampuan visual, intuitif, kreatif, dan imajinatif. Proses ini akan sangat lama hingga mendapatkan hasil yang baik. Maka terus berlatihlah dan cobalah untuk mengaplikasikannya ke dalam cerita-cerita pendek.

Yogyakarta, 5 Februari 2015
Nisrina Lubis

Nisrina Lubis

Saya menganggap blog ini sebagai rumah virtual. Segala yang saya sukai, saya tuliskan di sini, tanpa kecuali. Terima kasih sudah berkunjung dan membaca. Menuliskan komentar sama sekali bukan kewajiban.
Nisrina Lubis

Leave a Response