Me Myself and Mum (2013); Film Tentang Anak yang Dianggap Gay Keluarga

Me Myself and Mum (2013); Film Tentang Anak yang Dianggap Gay Keluarga
Me Myself and Mum (2013). Sumber gambar: moviepostershop.com

Me Myself and Mum (berjudul asli Les garçons et Guillaume, à table!) memenangkan CICAE Award dan SACD Prize di Cannes Film Festival 2013. Juga Best Actor, Best Adapted Screenplay, Best Editing, Best First Film, Best Film di César Awards 2014.

Ide untuk membuat skenario ini datang dari kebiasaan ibu Guillaume Gallienne (Cezanne and I, Down by Love, Yves Saint Laurent) ketika memanggil anak-anaknya makan dengan berseru: Les garçons et Guillaume, à table! (dalam bahasa Inggris, biar maksudnya mudah dipahami, Boys and Guillaume, to the table!)

Guillaume mementaskan pertunjukan tentang kisah hidupnya yang miris. Lahir dari kalangan atas, dia memiliki masa kecil yang sungguh unik. Dianggap oleh keluarganya sebagai gay sementara dia tidak merasa demikian. Dia memiliki garis keturunan campuran Prancis dari sang ayah, dan Rusia dari sang ibu. Ayahnya adalah seorang atlet, yang menurunkan bakat atletiknya kepada tiga putranya. Sementara Guillaume, dianggap berbeda.

Kesenangan Guillaume meniru-niru gaya elegan ibunya dan juga tingkah polah perempuan yang feminin, membuat kesan lelaki feminin melekat pada dirinya. Dia senang berpakaian ala Sisi sang Penguasa Austria dengan memakai pakaian ibunya.

Kebiasaan itu tidak membuat keluarga menghukum atau mengancam, tapi mereka membiarkan Guillaume tumbuh secara natural. Ketika ayah dan kakak-kakaknya berburu atau melakukan berbagai aktivitas maskulin, dia di rumah menemani sang ibu. Sang nenek pun kerap salah mengenalinya karena Guillaume sangat hebat meniru suara sang ibu.

Guillaume memperlihatkan bagaimana hidupnya dengan mementaskan sebuah drama monolog, yang ditonton oleh banyak orang, termasuk ibunya. Dan Guillaume membuat transisi mulus dari adegan saat di panggung ke dalam adegan scene film.

Barangkali pada menit-menit pertama, kita akan dibuat berpikir, apakah Guillaume hanya berhalusinasi tentang sosok sang ibu, yang perannya dia isi sendiri, sebab sang ibu bisa muncul kapan dan di mana saja. Namun rupanya, itulah strategi genius Guillaume untuk memperlihatkan betapa sang ibu sangat dalam mempengaruhi hidupnya.

Guillaume pernah disekolahkan di Inggris, pernah menyukai laki-laki, pernah mendatangi sejumlah psikiater untuk terapi, pernah hampir ditenggelamkan oleh kakaknya, pernah mengalami hal buruk lainnya. Tapi itu bukanlah siksaan, melainkan jalan panjang yang harus dilaluinya untuk menemukan cinta sejati.

Guillaume tidak merasa dirinya gay meskipun dia pernah masuk ke dalam bar-bar gay dan berkenalan dengan laki-laki yang ingin intim semalam dengannya. Dia pernah menyukai salah satu teman lelaki di sekolahnya meski akhirnya patah hati karena temannya menyukai perempuan. Pernah hampir masuk sekolah militer namun hasil tesnya di bawah standar. Pada akhirnya, ketika jatuh cinta pada pandangan pertama, itulah jawaban dari kegamangannya.

Guillaume tidak memberikan tendesi pembelaan kepada kaum LGBT untuk film ini. Sepenuhnya merupakan manifestasi kejujuran realitas yang pernah dijalaninya hingga kemudian menikah. Menjadi homoseksual bukan sesuatu yang terjadi atas kehendak manusia, ada sesuatu di dalam tubuh yang seolah ingin memberontak ke luar. Boleh jadi homoseksual hanyalah sebuah tahap yang banyak orang mengalaminya namun terlalu enggan mengakuinya. Sebab takut disalahartikan. Lelaki yang menyukai lelaki, perempuan yang menyukai perempuan.

Me Myself and Mum dikemas dalam bungkus komedi yang hangat. Guillaume adalah aktor yang sangat lihai menirukan sang ibu yang menurut dia dingin, barangkali dia membandingkan dengan perempuan Prancis. Ibunya bukan tipe perempuan yang terbiasa memeluk anak-anaknya. Tapi itulah yang disukai Guillaume. Sosok itu membuatnya nyaman. Ibunya berusaha untuk ramah kepada orang meski di belakang dia mengomel.

Trailer Me, Myself and Mum:

Jogja, 1 Januari 2017

Nisrina Lubis

Nisrina Lubis

Saya menganggap blog ini sebagai rumah virtual. Segala yang saya sukai, saya tuliskan di sini, tanpa kecuali. Terima kasih sudah berkunjung dan membaca. Menuliskan komentar sama sekali bukan kewajiban.
Nisrina Lubis

Leave a Response