Magic Bullet; Novel Tentang Konspirasi Kedokteran

Magic Bullet diterjemahkan menjadi Obat Pamungkas. Novel fiksi sains yang diuraikan dalam 587 halaman berkisah tentang seorang dokter muda bernama Daniel Logan yang memilih untuk mendapatkan pengalaman baru di Yayasan Kanker Amerika di Washington DC. Bukan sebuah pilihan cemerlang karena soal gajinya tidaklah sebesar di tempat lama, tapi memang soal prestise tidak perlu diragukan lagi.

Tidak semua petinggi YKA menyambutnya dengan baik kedatangannya dan sejumlah rekan baru. Kesinisan itu sudah dirasakannya semenjak bertemu Larsen yang mewawancarainya disusul Stillman, Kratsas, bahkan Atlas yang sama juniornya. Beruntung, Dan tidak begitu peduli. Toh dia mendapat simpati dari Seth Shein yang selalu memberikan dukungan penuh. Juga Sabrina Como yang berdarah Italia. Keberadaannya di sana bukan untuk mencari pengalaman belaka, tapi juga membuatnya tertarik untuk menemukan obat jitu untuk kanker payudara. Sampai sekarang, para ilmuwan memang masih mencari alternatif lain selain operasi dan kemoterapi. Sebab keduanya tidak serta-merta mematikan seluruh sel kanker.

Sebagai junior, keinginannya mendapat reaksi negatif dari pada senior yang menyebalkan. Ada saja yang berusaha menggagalkan usahanya, menyabotase semuanya. Bahkan terjadi pembunuhan sadis di YKA hingga pihak yayasan memutuskan untuk mengeluarkan Dan dari sana setelah Campuran J membunuh beberapa pasien yang diduga akibat racun yang terkandung di dalam Campuran J pertama kali ditemukan oleh seorang ilmuwan Jerman sebelum Nazi bergerilya memburu orang-orang Yahudi. Di masa dulu pun, Campuran J ini terus dikembangkan namun tidak sampai dibahas secara terbuka, si ilmuwan keburu ditangkap oleh Nazi.

Novel ini menyajikan cukup banyak ketegangan dari konflik-konflik antartokoh dan semakin mengaburkan siapa yang sebenarnya mendukung kerja Dan dan mana yang justru ingin menghentikan langkah mulianya.

Jogja, 15 Januari 2015

Nisrina Lubis

Nisrina Lubis

Saya menganggap blog ini sebagai rumah virtual. Segala yang saya sukai, saya tuliskan di sini, tanpa kecuali. Terima kasih sudah berkunjung dan membaca. Menuliskan komentar sama sekali bukan kewajiban.
Nisrina Lubis

Leave a Response