Ketika Mantan Terasa Dekat, Tapi Pacar Begitu Jauh

Mantan pacar membuat sebuah hubungan bisa goyah. Boleh jadi dia tidak melakukan apa pun, hanya saja seolah dia menjadi pemicu dari banyak ketidaknyamanan.

Saya rasa, situasi yang saya tuliskan sebagai judul tulisan ini, pernah dialami oleh siapa pun dan itu benar-benar membuat bingung. Sebut saja seorang cewek bernama B menerima pesan singkat dari si mantan pacar-sebut saja C-yang mengabarkan kalau dia sedang berada di kota yang sama dengan B. Bagaimana reaksi B? Hm saya melihat kebingungan di sana. Bingung karena dia dan si C ini sangat jarang kontak-kontakan, tapi setiap kali C datang, selalu mengabarkan dan ngajak ketemuan.

Oke sedikit mengenai hubungan keduanya. B dan C pernah menjalin hubungan sekitar 6 tahun lalu, sebuah hubungan jarak jauh dan hanya bertahan 7 bulan. Setelah itu, hubungan mereka sebagai mantan pacar sangat buruk karena memang putusnya tidak baik-baik. Tapi seiring dengan berjalannya waktu, keduanya bisa saling bersikap dewasa dan memahami kalau hubungan mereka memang tidak berjalan baik. Mereka mencoba jadi teman. Saya lebih memahami kondisi si B ketimbang C, karena dia dekat dengan saya. Yang saya tahu, B sejak putus dari C, tidak menjalin hubungan dengan siapa pun. Sementara C tipe yang tidak mau lama-lama jomblo.

Mengapa B bingung? Karena dia sudah punya D, yang berstatus sebagai pacar. D sedang berada jauh, dengan kata lain, karena beberapa urusan, D keluar kota untuk waktu cukup lama. LDR. B sangat tahu, D sangat cemburu dengan C. Dan ajakan ketemuan dari si C sudah bisa ditebak membuat si D bete. Yang saya tahu, B memang sudah tidak menyimpan rasa pada C. Mereka bertemu sebagai teman. Pernah mereke bertemu beberapa bulan lalu dan memang tidak terjadi apa-apa. B pun paham, dia tidak bisa memaksa D untuk tidak cemburu pada C, karena dia sendiri sangat cemburu dengan mantan-mantan D.

B kemudian mengatakan pada C dengan sejujurkan kalau dia tidak bisa menemui C karena si pacar lagi jauh dan tidak menyukai pertemuan itu. Untungnya, C menyikapi dengan santai. Tingal urusan B yang harus meyakinkan pada D bahwa dia tidak akan menemui C, kecuali D ikut serta.

Fiuhh, urusan mantan memang sensitif meski di luar sana, toh banyak kekasih yang bisa memahami bahwa jika sudah berstatus mantan, maka tidak perlu ada kekhawatiran apa-apa. Tidak perlu takut pasangannya akan berbalik arah di belakang sang kekasih.

Kata seorang teman, cemburu itu sebenarnya hulunya adalah rasa percaya. Mengapa bisa menyimpan cemburu kalau toh tidak ada alasan untuk itu? Dan kalau sudah sama-sama saling percaya, tentu tidak akan terpikir untuk mengkhianati dong. Teman saya itu bahkan tinggal serumah dengan mantan pacarnya dan tidak ada masalah sama sekali. Friends are friends, lovers are lovers.

Untuk mencapai tahap saling percaya, memang butuh waktu panjang, terlebih dalam kasus ini, D pernah diselingkuhi. Wajar jika pacar barunya harus bersabar hingga mendapat sertifikat “DIPERCAYA”. B sendiri sampai saat ini tidak pernah tahu alasan ia putus dengan C. Dia menganggap apa pun alasannya, hubungannya dengan C sudah berakhir dan harus move on. Dia tidak berpacaran selama sekian tahun karena menyibukkan diri dengan pekerjaan. Dia pernah menyukai seseorang, tapi hanya sebatas itu. Dia belum ingin memulai sebuah hubungan hingga akhirnya datanglah D.

Hubungan B dan D dimulai terlalu cepat, menurut ukuran saya. Mereka pedekate hanya kurang dari seminggu, lalu jadian. Dampaknya, banyak benturan di antara keduanya. Setiap hubungan sewajarnya memang tidak dimulai tanpa persiapan. Saya sering mendengar B bercerita jika ia sedang ribut dengan D dengan penyebab yang sepele. Mereka sangat perlu bisa saling berkompromi, saling menerima satu sama lain, saling menjaga perasaan. Bukan satu terpaksa mengalah demi yang lain.

Mereka harus LDR pun menjadi masalah. D tidak menyukai LDR dan B merasa tidak ada salahnya LDR selagi komitmen masih dipegang. Putus? Keduanya sama-sama pernah menawarkan opsi itu (meski di waktu yang berbeda). Tapi terpental karena kedua pihak tidak sepakat berpisah. Mereka berusaha untuk mencobanya dulu. Ini berarti sudah mulai ada komunikasi yang jauh lebih dewasa. Oh ya usia memang tidak menjadi kematangan pribadi seseorang kok.

Saya berharap, mau SDR (short distance relationship) atau LDR (long distance relationsip), mereka bisa sama-sama dewasa. Jangan berantem mulu ya, B n D 🙂

Jogja di siang hari, 6 Oktober 2013

Nisrina Lubis

Nisrina Lubis

Saya menganggap blog ini sebagai rumah virtual. Segala yang saya sukai, saya tuliskan di sini, tanpa kecuali. Terima kasih sudah berkunjung dan membaca. Menuliskan komentar sama sekali bukan kewajiban.
Nisrina Lubis

Leave a Response