Dosa dan Khilaf Manusia, Terkadang Terlalu Sulit Dirasakan

Dosa dan Khilaf Manusia, Terkadang Terlalu Sulit Dirasakan – Aku rasa, semua orang pasti pernah berbuat dosa, terlepas dari apakah itu dosa besar atau dosa kecil. Aku rasa, sekuat-kuatnya iman seseorang, yang namanya khilaf pasti pernah dilakukan. Kalau ada yang enggan mengakuinya, ya terserah. Toh persoalan dosa sebenarnya yang paling tahu ya Tuhan. Manusia hanya diberi sedikit pengetahuan bahwa ini benar atau itu salah.

Soal benar salah, rasanya ajaran Islam sudah sangat tegas membedakannya. Ada hitam ada putih. Lalu, abu-abu? Diakuikah? Apakah abu-abu itu berarti mencampurkan antara yang baik dengan buruk dan menganggapnya baik?

Aku pernah berada di posisi itu. Merasa putih, tetapi apa yang kulakukan hitam. Dan, lingkungan membuatku yakin bahwa hal itu sesuatu yang manusiawi. Tidak perlu memikirkan salah karena itu benar. Anggap saja aku tersesat. Cukup jauh sampai kupikir tidak ada satu pun yang akan membawaku kembali ke titik di mana seharusnya aku berada.

Aku, yang kala itu yakin sebagai seorang yang “berwarna” abu-abu, merasa bahwa Tuhan masih dekat denganku, Tuhan masih baik padaku, Tuhan masih memberiku kehidupan. Bukankah Tuhan Maha Pengasih? Semua makhluk-Nya pasti dikasihi, walaupun soal disayangi belum tentu.

Hidup menjadi manusia yang mengadopsi sifat angel and demon memang mustahil. Tidak ada yang bisa secara adil membagi dirinya menjadi setengah malaikat dan setengahnya adil. Manusia macam apa yang bisa begitu? Tapi, ada sesuatu yang menutupi hatiku hingga menganggap manusia dengan karakter angel and demon as a one package is real.

Okelah, di satu sisi, shalat dan puasa tidak pernah ketinggalan. Tapi di sisi lain, malaikat terus saja mencatat satu demi satu Dosa dan Khilaf yang kubuat. Kalau dosa-dosa kecil mungkin bisa dimaklumi, lalu bagaimana dengan dosa-dosa besar?

Sejalan dengan waktu, aku merasa sifat angel itu semakin menipis saja dan aku merasa hal itu bukanlah suatu masalah besar. Aku merasa apa yang kujalani benar, kata orang-orang juga benar. Kalaupun ada yang berkata salah, aku tidak mau dengar. Kututup kupingku rapat-rapat, kujauhi orang-orang yang setiap kali hanya bisa menceramahiku. Menurutku, mendengarkan mereka hanya bikin sakit kepala.

Hidupku banyak yang berubah. Hanya aku yang bisa merasakan ketika nikmat dari-Nya perlahan-lahan dicabut dariku. Perlahan dan aku tidak bisa mencegahnya. Bukan soal materi, tapi berkah yang memberikan ketenangan jiwa. Apa artinya punya harta, tapi jiwa selalu dilanda kegelisahan?

Apa gunanya aku berada di tengah orang-orang yang sama-sama pelaku maksiat, kalau kecemasan itu hanya aku yang merasakan? Di satu sisi, mereka tetap bersikukuh hidup mereka di jalan yang lurus. Apa gunanya aku tetap berada bersama mereka? Ke mana tujuan mereka? Tahukah mereka sebenarnya atau karena saking hebatnya hawa nafsu menguasai jiwa mereka sampai tak bisa berhenti sejenak untuk berpikir?

Padahal, mereka bukan orang-orang bodoh. Mereka bukan ateis. Mereka punya agama. Aku tahu itu.Lalu, aku sampai di titik di mana Tuhan memberiku waktu untuk merenung. Aku menjauhi kehidupan gelap itu. Aku mulai berpikir, untuk apa sebenarnya aku di dunia ini. Aku mulai merasa dosa itu menggoreskan rasa bersalah yang semakin dalam di jiwa. Aku mulai melihat bahwa diriku sudah menjadi orang munafik. Bukankah orang munafik itu pantas dibenci? Bukankah Rasulullah sangat membenci golongan itu?

Aku mulai merenungkan betapa apa yang sudah kulakukan adalah sama dengan melawan hukum absolut Tuhan, aku melawan-Nya dan menyebut diriku sebagai manusia yang benar. Aku ingat semua yang sudah kulakukan. Luar biasa. Kenapa begitu lama baru aku merenungkannya? Mengapa selama itu aku menganggap semua baik-baik saja? Mengapa ketika orang-orang “memelintir” ayat-ayat-Nya aku justru mendukung mereka?Begitu banyak pengorbanan yang kulakukan, dan pengorbananku yang terbesar adalah menukar kedekatanku dengan-Nya demi sebuah kepuasan duniawi. Hanya demi hal remeh itu.

Ketika manusia menjauhi Sang Khaliq, sudah pasti Dia akan menjauh dari makhluk-Nya. Aku bahkan tidak pernah bersyukur, aku benar-benar lupa sebuah hal kecil, tapi sangat penting dalam kehidupan ini.Hal pertama yang kulakukan memang bukan sesuatu yang seharusnya dilakukan seorang umat muslim jika sudah menyadari perbuatan buruknya. Aku tidak serta-merta bertaubat sampai berjanji berubah jadi orang baik. Tidak, buatku itu sangat sulit.Abu butuh berbulan-bulan untuk setidaknya menyadarkan diriku sendiri, termasuk menjauh dari mereka yang selama ini membenarkan sesuatu yang salah, dan sebaliknya. Aku tahu, membuat konstruksi iman hingga layaknya baja yang tahan segala macam serangan bukan perkara mudah. Apalagi aku sudah terlalu jauh dari ajaran agama yang kuanut sejak lahir.

Gara-gara aku membiarkan orang lain mengubah cara pandangku.Aku masih sering menyalahkan diriku sendiri dan itu sepertinya tidak mudah dihilangkan. Rasa bersalah yang begitu kuat.Tapi, bukankah Tuhan Maaf Pemaaf? Bukankah di antara para sahabat Nabi pun juga ada yang punya masa lalu kelam dan Allah memaafkannya bahkan mengangkat derajatnya? Aku pun semakin menguatkan tekad untuk benar-benar kembali ke alur yang seharusnya. Aku hanya ingin memperbaiki diriku terlebih dahulu. Bukan karena aku egois, tapi karena percuma aku mengajak orang lain menuju kebaikan kalau keimananku sendiri masih berantakan.Lalu, di bulan Ramadhan 1431, aku merasa di situlah puncak hidayah itu turun.

Di mana aku akhirnya bisa menangis dalam shalat dan memohon ampun atas dosa-dosaku. Aku merasa begitu rendahnya diriku. Aku merasa neraka begitu dekat denganku. Aku merasa begitu kecil kesempatanku menikmati surga, mengikuti jejak Rasulullah yang begitu kucintai.Ya Allah, ampunilah aku, jagalah hatiku agar terbebas dari berbagai noda yang akan kembali menggelapkan hatiku, dan kan kugenggam hidayah ini erat-erat selamanya. Amiin.

 

Jogja, 12 Juni 2011

Nisrina Lubis

Nisrina Lubis

Saya menganggap blog ini sebagai rumah virtual. Segala yang saya sukai, saya tuliskan di sini, tanpa kecuali. Terima kasih sudah berkunjung dan membaca. Menuliskan komentar sama sekali bukan kewajiban.
Nisrina Lubis

Leave a Response