Budaya Yahudi; Mulai dari Garis Ibu sampai Peribadatan

Sebelum membahas budaya Yahudi, silakan membaca artikel ini terlebih dahulu.

Berkenalan bahkan berbicara dengan seorang Yahudi, adalah hal yang tidak terpikirkan oleh saya. Selama ini saya berpikir, Yahudi hanya ada di Timur Tengah sana. Mereka disebut-sebut dalam al-Qur’an, sebagai Bani Israil dan Yahudi. Adakah bedanya? Entahlah, jika mencoba googling, ada begitu banyak jawaban. Silakan pilih mana jawaban yang menurut Anda paling benar.

Saya memilih menanyakan hal lain saja pada Mbak Nina, ada yang lebih membuat saya ingin tahu. Dimulai soal garis keturunan Yahudi. Konon, Yahudi haris keturunannya ditarik dari pihak ibu. Ini membuat saya langsung terkoneksi dengan budaya orang Minang. Untuk memastikan kesamaan ini, saya pun menanyakannya. Apa iya sama atau beda jauh?

Ya benar soal garis keturunannya diambil dari ibu. Tapi tidak ada istilahnya lalu perempuan menguasai atau lebih tinggi dari laki-laki. Sama seperti yang lainnya. Soal hak waris-saya khilaf menanyakan ini, dan tidak yakin apakah di dalam agama lain juga ada hukum seperti dalam Islam-laki-laki dan perempuan sama. Maksud dari garis keturunan tadi, dihubungkan dengan meneruskan jiwa Yahudi melalui ibu semenjak dalam kandungan. Itu saja, tidak lebih. Kepala keluarga tetap saja seorang suami, ibu sebagai kepala rumah tangga.

Pernah mendengar 12 suku Yahudi? Jacob memiliki 12 putra, yaitu Reuben, Simeon, Levi, Judah, Dan, Naphtali, Gad, Asher, Issachar, Zebulun, Joseph, Benjamin. Ini kemudian saya tanyakan pada Mbak Nina, samakah dengan marga dalam suku Batak/Mandailing di mana ada aturan-aturan yang secara adat berlaku, misalnya sesama marga tidak boleh menikah? Dan saya jika memang marga, mengapa saya jarang mendengar seorang Yahudi bermarga Reuben, Simeon, dan sebagainya.

Dalam budaya Yahudi, berbeda. 12 suku itu tidak sama dengan nama marga. Mereka hanyalah keturunan dari 12 putra Jacob dan ketika sudah menikah, maka otomatis akan memakai nama belakang pihak pria. Mereka memiliki nama komunitas yang mana berbeda dengan nama internasionalnya. Kurang lebih sama dengan warga keturunan Cina di Indonesia, saya rasa. Dan seseorang bernama Jossef bukan berarti keturunan dari Jossef. Perkeculian dengan Levi dan Kohen. Keturunan keduanya memiliki kewajiban dan aturan khusus sampai hari ini.

Dulu saya pernah mendengar, orang Yahudi identik dengan hidung yang bengkok. Kalau begitu teman saya ada yang Yahudi dong. Tapi itu sepertinya hanya mitos belaka. Tidak semuanya seperti itu dan lagi-lagi, mereka saling mengenali bukan hanya sebatas hidung. Sebab, kalau sudah operasi plastik, tentu hidungnya sudah tidak sama lagi.

Dalam agama Yahudi ada yang namanya hari Shabat, Sabtu kalau kita kenal. Ini adalah hari peristirahatan kaum Yahudi. Minggu milik Kristen, Jum’at-khusus di Arab-juga libur. Alangkah indahnya jika 3 hari libur itu diberlakukan. Tentu tidak mungkin jika hari libur hampir sama dengan hari kerja. Saya kemudian menanyakan kepada Mbak Nina, kalau keturunan Yahudi bekerja kantor yang masih memberlakukan 6 hari kerja apakah berdosa? Kalau mau meluangkan waktu, coba deh buka youtube dan cari tahu tentang Shabat/Sabbath. Di Jum’at malam, kaum Yahudi melakukan tradisi menyambut Shabat. Mbak Nina mengatakan, soal dosa kembali ke masing-masing. Saya menyimpulkan bahwa tidak ada sanksi bagi mereka yang tetap bekerja di hari Sabtu.

Budaya Yahudi; Mulai dari Garis Ibu sampai Peribadatan
Sumber gambar: timesofisrael.com

Pertanyaan saya selanjutnya adalah mungkinkah seorang anak Yahudi tidak mengetahui dirinya Yahudi tapi memiliki insting mengenali sesama Yahudi? Ataukah setiap orang tua wajib menjelaskan silsilah keluarga? Dari jawaban Mbak Nina, saya menyimpulkan jika setiap anak Yahudi pasti tahu dirinya Yahudi apalagi mereka berada dalam komunitas. Banyak perayaan yang membuat seorang anak paham secara mendasar jika dirinya Yahudi. Saya rasa, ini sama dengan cara orang tua muslim mengajarkan anaknya agama.

Mengenai ibadah. Saya pernah melihat di youtube, seorang Yahudi Orthodox bersembahyang, mirip cara orang shalat. Saya lalu berpikir, shalat itu bukan hal yang baru ada di agama samawi, walaupun sebutannya berbeda. Konon, di zaman Nabi Musa, rakaat shalatnya lebih banyak dan di dalam Islam hanya menjadi 5 waktu saja. Menurut Mbak Nina, di saat Yom Kippur memang ada gerakan sepeti sujud, sebatas itu. Selain itu, cara berdoa bisa dengan cara apa pun. Di mata dia, orthodox atau bukan, tetap saja Yahudi, bukan sesuatu yang perlu dipersoalkan. Untuk kitab sucinya, kurang lebih sama dengan Injil, yaitu menggunakan bahasa setempat. Injil pun demikian, ditulis menyesuaikan dengan bahasa pemakainya, termasuk bahasa Arab. Dan cara membaca Taurat hampir sama dengan cara membaca al-Qur’an, terlebih bahasanya masih serumpun

Seperti yang telah saya sebutkan di bagian pertama, ada beberapa hal yang tidak dijawab oleh Mbak Nina dan saya jadikan pemakluman. Bagi saja, sudah cukup memuaskan rasa keingintahuan saya akan Yahudi itu sendiri. Saya menutup tulisan ini dengan satu ayat: Lakum dinukum waliyadin. Untukmu agamamu dan untukku agamaku. Percuma saja jika kita memaksakan untuk menarik garis tengah karena masing-masing berpegang pada keyakinannya.

Akhir kata, terima kasih telah membaca tulisan saya.

 

Yogyakarta, 15 Juli 2014

Nisrina Lubis

Nisrina Lubis

Saya menganggap blog ini sebagai rumah virtual. Segala yang saya sukai, saya tuliskan di sini, tanpa kecuali. Terima kasih sudah berkunjung dan membaca. Menuliskan komentar sama sekali bukan kewajiban.
Nisrina Lubis

Leave a Response